Sekelompok parajurit Inggris yang ikut Perang Dunia II terkepung oleh tentara Jepang di dalam hutan. Kekuatan mereka kalah jauh dengan tentara Jepang tentunya, melawan jelas sama dengan bunuh diri. Seorang pengintai melapor kepada komandan, bahwa tak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Sang komandan diam sejenak, dan akhirnya memerintahkan seluruh prajurit yang tersisa untuk membuat teh. Banyak parajurit berpikir inilah teh terakhir yang bisa mereka nikmati sebelum akhirnya tewas di tengah ganasnya perang. Ketika selesai minum teh, prajurit pengintai melapor kembali dan kali ini sang komandan dengan tegas memberikan perintah “ segera berkemas, dan selamatkan diri secepatnya”. Itu cerita nyata yang dikisahkan ulang salah seorang prajurit yang selamat dan kini menjadi biksu di Myanmar.

Finalisasi rapat kerja FIK UMSurabaya yang diselengarakan di Probolinggo selama dua hari serupa dengan aktivitas “minum teh” para prajurit pada cerita di atas. Rehat sejenak menikmati udara dingin pegunungan, meninggalkan sesak dan panasnya Surabaya. Melihat hutan, lembah, ngarai dan sungai. Dan tentu benar-benar  minum teh ditemani pisang goreng diantara deras aliran Songa. 

Kita yang dewasa ternyata perlu menjadi anak-anak dan bermain bersama teman sebaya, tapi melihatnya secara berbeda dan lebih bermakna. Menjadi anak-anak adalah meniadakan jarak dan batas, menghilangkan strata dan golongan yang ada hanyalah keasyikan bermain.

Bergandengan tangan, berdansa, menari, berlarian. “All grown-ups were once children… but only few of them remember it.” Kata Antoine de Saint-Exupéry dalam novelnya The Little Prince. Dulu kita semua adalah anak-anak…tapi hanya sedikit yang mampu mengingatnya.

Segenap permainan yang dilakukan selama dua hari mungkin telah mengingatkan kita kembali tentang dunia anak-anak beserta kenakalan yang kita lakukan. Tapi tentu bukan itu tujuan finalisasi raker kali ini, melainkan adalah membangun tim yang baik, penuh rasa kekeluargaan dan saling menghargai satu dengan yang lain. Banyak permainan yang mengajarkan tentang betapa sebuah tujuan hanya bisa tercapai dengan kerjasama, mematuhi perintah dan aturan juga percaya pada teman.

Sebuah bola golf tak akan bisa mengalir dan masuk pada gelas jika tak  ada keriuhan perintah, gesekan, kerja keras menjaga stabilitas talang dan juga doa. Sama juga dengan kaleng-kaleng yang mesti dipindahkan dan disusun, teriakan, langkah-langkah yang tertata dan tarik-ulur benang adalah keniscayaan yang harus dilakukan. Pada kertas-kertas yang tersusun sebagai jembatan yang harus anda seberangi tanpa anda tahu di titik mana anda bisa terjerumus, anda mesti percaya akan informasi yang diberikan teman.

Tentu masih banyak pelajaran lain yang bisa anda ingat.

  Awas jika ada jeram anda harus “Buum” ….

Leave a Comment