Pemerintah Indonesia dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat telah melakukan berbagai upaya pada sektor kesehatan termasuk diantaranya adalah amandemen undang-undang dan pembentukan undang-undang baru khususnya undang-undang perlindungan anak yang di dalamnya memuat mengenai kesehatan anak (UU No 35 Tahun 2004). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah memperhatikan anak sebagai tunas bangsa yang harus diperdulikan perkembangan dan pertumbuhan kesehatannya. Atas dasar tersebut, penyelesaian masalah kesehatan anak, tentu akan sangat bergantung pada pola asuh dari seorang ibu dan lingkungan perkembangannya. Sebab itulah  banyak progam yang berfokus pada ibu dan lingkungan dalam mengatasi permasalahan kesehatan anak yang telah dilakukan oleh pemerintah.

Selaras dengan tujuan tersebut Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2018, melalui Progam SAGA (Sahabat Keluarga) yang dilakukan oleh mahasiswa praktik komunitas profesi keperawatan, turut serta dalam mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan anak.

SAGA (Sahabat Keluarga) merupakan Progam pengabdian terhadap masyarakat dalam bentuk pendampingan terhadap keluarga yang telah rutin digalakkan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, SAGA kali ini menyongsong tema yaitu “Meningkatkan Peran Asuh Keluarga dalam Mewujudkan Anak Indonesia Sehat” yang akan diselenggarakan di Taman Harmoni daerah kelurahan keputih wilayah binaan Puskesmas Keputih. Kegiatan tersebut berupa pameran berbagai produk inovasi mahasiswa FIK UMSurabaya yang berfokus pada bagaimana meningkatkan pola asuh ibu dengan metode baru, inovatif dan terjangkau.

Adapun inovasi tersebut diantaranya :

  1. Teater NELIDA

NELIDA (Boneka Limbah Cerdas) kegiatan ini berbentuk teater boneka dibuat dalam bentuk panggung kecil. Melalui media teater boneka diharapkan siswa dapat mengambil dan menangkap pesan dari cerita yang telah dibawakan.

Produk ini merupakan makanan ringan yang free gluten dan kasein serta bergizi dengan tampilan yang menarik dan merupakan makanan ringan yang diminati anak-anak kecil di area ini. Pizza mini diciptakan sebagai alternative makanan ringan pemunuhan gizi anak autism dan ADHD.

  1. Video Animasi Islam

Salah satu film pendidikan yang ada saat ini memiliki nilai-nilai Islami seperti film animasi Islam. Dengan audio visual cara penyampaian dan penerimaan bahan pendidikan menjadi lebih mudah karena diketahui 83% pengetahuan manusia disalurkan melalui penglihatan dan 11% melalui pendengaran.

  1. Permainan Ular Tangga

Permainan ular tangga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran maupun alat permainan edukatif. dalam permainan ini anak belajar untuk bekerja sama dan berkompetisi yang sehat (fairplay), bersosialisasi dengan teman sebaya, dapat melatih daya imajinatif.

  1. Puding MODISCO

Modisco merupakan singkatan dari Modified Dried Skimed Milk And Coconut Oil yang memiliki kandungan gizi sangat melimpah dan biasa digunakan untuk mengatasi masalah gizi. Formula ini terdiri dari campuran susu, gula dan minyak dengan takaran yang ditentukan.

  1. Diapers Sabut Kelapa

Banyaknya limbah sabut kelapa dindonesia yang mencapai sekitar 1,7ton per tahun, dapat dimanfaatkan menjadi alternatif pembuatan popok bayi atau diapers. Kandungan selulosa pada sabut kelapa memiliki daya serap tinggi yaitu alfa selulosa 55,34%, dengan adanya selulosa dalam sabut kelapa dapat kemudian dijadikan sebagai bahan alternatif dalam diapers. Selain itu dengan daya serap tinggi, diapers sabut kelapa juga dapat meminimalisir angka kejadian penyakit Ruam (Diapers rash) pada bayi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diapers sabut kelapa menunjukkan adanya perbedaan dan pengaruh selulosa diapers modifikasi sabut kelapa yang signifikan terhadap daya serap air pada popok sehingga tingkat ruam dapatditurunkan serendah-rendahnya.

  1. Deklarasi dukungan program ORI (Outbreak Response Immunization) Difteri

ORI Difteri perlu dilakukan sebanyak tiga kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae.Imunisasi difteri dilakukan pada anak berusia 1 hingga 19 tahun dan belum mendapatkan ORI pertama. Bagi keluarga dengan anak usia tersebut sangat diharapkan untuk segera menghubungi petugas kesehatan agar mendapatkan imunisasi tersebut. Karena keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95 persen. Munculnya wabah (KLB) difteri kemungkinan karena immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

  1. Simulasi Kegawat Daruratan Anak

Kurangnya pengetahuan orang tua yang memiliki anak dengan kondisi gawat darurat bisa sangat meresahkan. Kondisi itu bisa saja dalam bentuk tersedak, kejang, henti nafas, syncope (pingsan, semaput). Bagi orang awam, perlu kiranya ada simulasi tentang beberapa kondisi tersebut. Dengan begitu, ketika orang tua atau orang awam menemui kondisi gawat darurat bisa memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke pelayanan kesehatan.

Berbagai produk inovasi lainnya juga akan dipamerkan untuk bersama-sama diajarkan agar diterapkan dalam mengasuh anak atau memandirikan ibu dalam meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan kesehatan anak.

Leave a Comment